RSS Feed

Coklat di Indonesia

Gaya Juragan Cokelat Menjaga Rantai Pasokan
Kamis, 04 September 2008
Oleh : Sudarmadi

Pengelolaan asupan menjadi isu penting di perusahaan yang bisnisnya sangat tergantung pada alam. Bagaimana Grup Mars menjalankannya di Indonesia sehingga bisnis cokelat mereka tetap berjaya?

Kalau ditanya, “Tahukah Anda cokelat M&M, Snickers, Mars, Doves?” rasanya sebagian besar dari sidang pembaca pasti akan mengangguk. Malah, mungkin banyak yang menjadi penggemar berat merek cokelat impor asal Amerika Serikat itu, khususnya M&M yang di Indonesia cukup populer.

Yang mungkin tak banyak diketahui, bahan baku cokelat beken itu berasal dari Indonesia. Ya, Mars Incorporated – produsen merek-merek itu yang juga perusahaan cokelat terbesar dunia asal AS beromset US$ 22 miliar/tahun – memang mengambil pasokan bahan baku cokelat dari Indonesia. Maklum, Indonesia adalah produsen kakao (cokelat) terbesar ketiga dunia setelah Pantai Gading dan Ghana.

Indonesia sungguh negeri yang amat penting bagi Mars Inc. Bukan semata potensi pasarnya yang kelewat besar, melainkan karena kemampuannya menghasilkan kakao yang merupakan bahan baku utama dalam sistem rantai pasokan bisnis mereka. Di dunia, hanya beberapa negara yang bisa ditumbuhi tanaman kakao, yakni yang letaknya sekitar 12 derajat di seputar garis khatulistiwa, termasuk Indonesia. Tak heran, Mars bersedia jauh-jauh mendatangi Indonesia, demi menjaga kesinambungan rantai pasokan bisnisnya.

Di Indonesia, sejak awal Mars sangat serius mengamankan pasokan bahan bakunya ini. Antara lain dengan mendirikan perusahaan di Makassar tahun 1996, PT Mars Symbioscience Indonesia (MSI), yang berkutat di pengadaan dan pengolahan bakan baku kakao dari Indonesia. Dipilih Makassar karena 80% hasil kakao Indonesia disumbang Sulawasi Selatan yang notabene beribu kota di Makassar. “Kami yang pertama mendirikan pabrik pengolahan kakao di sini. Baru setelah itu diikuti beberapa perusahaan lain,” ujar Noel Janetski, Presdir MSI, di Makassar beberapa minggu lalu.

Sebelum penetrasi Mars tahun 1996, di Makassar belum ada investor cokelat lain yang tertarik menjalankan pengolahan cokelat. Memang kala itu sudah banyak pengusaha dan perusahaan cokelat yang berkecimpung, tapi umumnya sekadar menjadi eksportir dan pedagang. Mereka membeli biji kakao dari para petani, lalu sedikit dikeringkan dan langsung diekspor ke beberapa negara maju yang tingkat kebutuhan bahan baku cokelatnya tinggi seperti AS dan negara-negara di Eropa. Jadi, tanpa pengolahan dan program pengembangan produk dalam jangka panjang. Mars kemudian masuk dengan mendirikan pabrik pengolahan, dan memandang kehadirannya di Sul-Sel sebagai bagian dari strategi manajemen pasokan di grup itu.

Setiap hari MSI membeli biji kakao dari para pemasoknya di seputar Sul-Sel, lalu diolah secara modern di pabrik di Makassar itu hingga menjadi mentega kakao dan bubuk kakao. Produk olahan setengah jadi inilah yang kemudian dibawa ke AS untuk diproses menjadi produk yang siap dikonsumsi seperti M&M, Snickers, Mars, Twix, Skittles, dan lain-lain. Pabrik di Makassar seluas 2,5 ha yang menelan investasi US$ 15 juta itu tiap tahun mengolah tak kurang dari 17 ribu ton biji kakao, menghasilkan 6 ribu ton mentega kakao, dan 7.500 ton bubuk kakao.

Kesungguhan Mars tak hanya tercermin dari keberaniannya mendirikan pabrik, tapi juga melalui berbagai terobosan untuk mengamankan pasokan. MSI membangun rantai dan jejaring pemasok dengan strategi jemput bola yang layak dicermati. Maklum, karakteristik pasokan di bisnis kakao ini memang unik, sangat berbeda dari pengolahan sawit (CPO) misalnya.

Di bisnis sawit, pabrik kelapa sawit (PKS) relatif lebih mudah mengendalikan pasokan karena biasanya mereka juga punya konsesi perkebunan milik sendiri, dengan luas bisa mencapai puluhan ribu hektare. Biasanya satu perusahaan yang sudah punya PKS, paling tidak punya kebun sendiri 10 ribu ha. Jadi, pasokan bahan baku ke pabrik mereka bisa dipenuhi oleh buah sawit yang dipetik dari kebun sendiri. Kalau toh kekurangan, bisa deal dengan satu atau beberapa perusahaan lain yang punya konsesi kebun yang sudah berbuah. Kalau pun masih kekurangan pasokan, mereka mudah menjalin kerja sama dengan petani lewat format inti plasma. Para petani itu nanti diwajibkan menjual hasil buah sawit ke PKS yang membiayai pengadaan bibit, pemeliharan dan pemupukan. Manajemen sourcing di PKS relatif lebih simpel dan mudah dikendalikan.

Pola seperti itu tak bisa dilakukan di bisnis kakao. Di dunia kakao, tidak ada perkebunan kakao yang dimiliki dan dikelola perusahaan. Tidak ada konsesi perkebunan cokelat milik perusahaan. Semua kebun bertipe perkebunan rakyat, jadi milik petani kakao yang rata-rata hanya punya 1-2 ha. Para petani bisa menjual hasil kebunnya secara bebas kepada yang mereka pilih. “Di kakao, kalau ingin bertahan, kami mesti bisa deal dengan petani, yang di Sul-Sel jumlahnya 500 ribu petani. Cara yang harus dijalankan benar-benar lebih rumit,” Noel menjelaskan.

Ternyata di berbagai negara penghasil cokelat kondisinya juga serupa. Perusahaan cokelat sangat tergantung pada petani kecil. “Data yang saya peroleh menunjukkan 5-6 juta petani kecil menyediakan 90% pasokan cokelat dunia,” kata Ahmad Syamil, pakar manajemen asal Indonesia yang kini mengajar di Arkansas State University, AS. Wajar, perusahaan seperti MSI, selain harus pandai mendekati seluruh petani juga harus membangun hubungan jangka panjang. Tanpa itu, rantai pasokan untuk produksi mereka akan putus alias pabrik bisa berhenti operasional.

MSI menerapkan beberapa strategi untuk mengatasi masalah itu. Antara lain, pertama, memperbanyak kanal sumber pembelian bahan baku, yakni melalui pedagang, petani pengumpul, dan petani. Dulu pabrik hanya membeli kakao melalui pedagang. Jadi yang bersentuhan langsung dengan petani bukan Mars, tapi para pedagang. Lalu dikembangkan ke para petani pengumpul, yang biasanya mewakili petani-petani di sekitarnya yang lokasinya jauh dari pusat pembelian kakao milik Mars. Kepada para pengumpul ini Mars memberi uang transpor Rp 200 per kg.

Dan yang sekarang sedang aktif dikembangkan, pola pembelian langsung ke petani. Jadi tanpa melalui pedagang atau pengumpul. Para petani mengantar sendiri cokelat hasil kebun mereka ke Mars. Untuk harga sudah dibuat standar di semua lokasi pembelian Mars. Pengumuman harga selalu ditempelkan di halaman depan pabrik, sehingga sangat transparan dan semua petani mengetahui. Harganya sendiri bisa berubah tiap hari, sesuai dengan perubahan harga cokelat dunia di bursa komoditas New York.

Pola pembelian langsung ke petani ini mulai dilakukan tiga tahun terakhir, dan kini per tahun tak kurang dari 3 ribu ton cokelat yang diperoleh Mars dari pembelian langsung. Hanya saja, pelaksanaan pola pembelian langsung ini memang tak mudah karena Mars harus membangun sistem sendiri, mulai dari penimbangan hingga pembayaran. “Ke depan kami akan memperbanyak pola pembelian langsung ke petani ini,” kata Noel, ekspatriat berdarah Eropa Timur. Yang pasti, dengan pola pembelian langsung, juga memungkinkan Mars mengedukasi langsung ke para petani mitranya tentang bagaimana merawat biji kakao. Ini sangat penting agar Mars mendapatkan bahan baku cokelat terbaik. Mars sangat berkepentingan akan hal itu, apalagi pabriknya menerapkan sertifikasi HACCP dan GMP, sehingga mesti dilakukan pengetesan dan kontrol ketat di setiap proses.

Demi mengoptimalkan pasokan, selain memperbanyak kanal sumber pembelian bahan baku, Mars memperbanyak pula lokasi pembelian biji kakao. Pembelian tak hanya dilakukan di Makassar, tapi juga di pelosok Sul-Sel. Dalam hal ini MSI mendirikan unit pembelian di kabupaten, seperti di Luwu, Luwu Utara dan Masamba. Bahkan ada pula di Flores. Unit pembelian ini sekaligus difungsikan sebagai subpabrik yang aktivitasnya melakukan proses fermentasi dan pengeringan biji kakao. Tak heran, untuk mendirikan sub-subpabrik ini saja MSI mesti menggelontorkan investasi US$ 2 juta. Pada musim panen raya, dari unit pembelian ini MSI menerima 200 ton biji kakao per hari.

Penulis kebetulan sempat mengunjungi subpabrik MSI di Luwu dan sudah membuktikan betapa jauh lokasi itu. Sulit dibayangkan bagaimana dulu manajemen MSI bisa menemukan lokasi itu. Ini belum lokasi subpabrik di Masamba. Lokasi itu hanya bisa diakses dengan perjalanan darat, memakan waktu sedikitnya 9 jam dari Makassar. Yang menarik, untuk menemukan lokasi subpabrik atau unit pembelian itu, Noel sendiri yang keluar-masuk kampung menyurvei pasar. Hingga kini setidaknya tiap bulan sekali dia mengunjungi unit-unit pembelian itu, sekadar untuk memotivasi karyawan, menyurvei pasar, atau menemani tamu dari luar kota. Sekali lagi, nampaknya hal itu bagian dari komitmen, profesionalisme dan upaya menjaga keberlanjutan pasokan (supply sustainability).

Keberlanjutan pasokan juga dilakukan MSI dengan mengembangkan program berdampak luas yang hasilnya bisa jadi tidak dirasakan dalam jangka pendek. MSI memelopori program yang mereka sebut Cocoa Sustainability Program (CSP). Awalnya program ini dijalankan sendiri, tapi sejak akhir 2005 berkolaborasi dengan lembaga lain seperti Askindo, IFC, Indonesian Cocoa and Coffee Research Institute (ICCRI), Dinas Perkebunan, Universitas Hasanuddin (Unhas), ACDI/Voca dan GTZ (lembaga riset Jerman). Mereka duduk bareng dan bersepakat menjalankan program pengembangan kakao, selalu berkoordinasi, dan membentuk forum CSP.

Tampaknya MSI begitu peduli dengan kondisi ini karena dalam beberapa tahun terakhir potret pertanian kakao di Indonesia, terutama di Sul-Sel, memang mencemaskan. Terjadi penurunan produksi dan kualitas kakao disebabkan banyak hal. Mulai dari rata-rata pohon kakao yang menua (tidak diremajakan), buruknya kondisi tanah dan nutrisi pohon, kurangnya kemampuan manajemen perkebunan, meluasnya hama dan penyakit tanaman seperti penggerek buah kakao (cocoa pod borer), penyakit busuk buah (black pod), serta penyakit vascular streak dieback. Belakangan ini diperburuk pula oleh perubahan iklim dan cuaca yang tak menentu. “Indonesia seharusnya bisa menghasilkan 900 ribu ton per tahun, tapi kenyataannya hanya 500 ribu ton karena berbagai masalah itu,” papar Noel.

Noel layak khawatir kalau produksi kakao di Indonesia – apalagi Sul-Sel – jeblok. Pasalnya, bagi Grup Mars, Indonesia adalah negara penting yang menopang rantai pasokan cokelat mereka. Indonesia memang negara produsen kakao terbesar ketiga dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Toh kenyataannya bagi Grup Mars, Indonesia adalah pemasok terbesar kedua (16%), hanya kalah dari Pantai Gading (38%). Negara-negara lain hanya mengontribusi 2%-3% bagi pasokan grup ini.

Tak heran, Mars kemudian menggandeng pemerintah lokal, dinas perkebunan dan berbagai organisasi lokal untuk menjalankan berbagai program guna meningkatkan produktivitas, kualitas dan kesinambungan perkebunan kakao di Indonesia. Mulai dari mengenalkan dan transfer teknologi perkakaoan ke petani hingga pemberdayaan usaha tani melalui pembentukan model usaha praktis yang mendukung kesinambungan kakao dalam jangka panjang.

MSI ingin para petani dibangun dari sisi fondasi bisnisnya, terutama dalam hal cara penanaman yang mereka lakukan. Sekali lagi, rata-rata tanaman kakao di Sul-Sel sudah tua dan belum diremajakan. Tanaman kakao bisa menghasilkan dengan baik hingga usia pohon 10 tahun, tapi setelah itu cenderung akan makin menurun. Mars mengambil solusi dengan menggalang peremajaan pohon. Untuk membantu peremajaan tanaman kakao di Sul-Sel, MSI melatih petani kakao dalam menghasilkan bibit unggul dari hasil sambung pucuk. Berbagai program pelatihan pembibitan pun dijalankan. Malahan diberi pinjaman modal bergilir kepada para petani ini untuk mendirikan usaha pembibitan kakao. “Sudah ada 72 usaha pembibitan yang kami bantu tahun 2008, dan telah menghasilkan 250 ribu bibit kakao sambung pucuk kualitas terbaik. Target 2009 menghasilan setengah juta bibit unggul,” papar Momahamad Hussin, Koordinator CSP MSI.

Mars juga mengembangkan klinik kakao untuk percontohan, penelitian dan pelatihan teknologi kakao. Klinik kakao ini, antara lain, ditujukan untuk mengawinkan bibit kakao supaya menghasilkan varietas terbaik, dan mengidentifikasi berbagai hama kakao. Klinik kakao berlokasi di Palopo, tanahnya disediakan Pemda Palopo. Rencananya klinik kakao ini akan didirikan di seluruh unit Mars di luar kota, sekaligus menyediakan pernyewaan alat dan bibit.

Tak berhenti di situ. Agar tanaman cokelat para petani meningkat produksinya, MSI menjalan program kompos yang sangat diperlukan untuk kesuburan tanah. Maka, MSI membantu petani kakao membuat kompos dari limbah kakao. Tentu pula sekalian menyediakan alat pencacah limbah dan teknologi pengolahan kompos. Saat ini sudah ada 2 ribu petani kakao Sul-Sel yang dilibatkan Mars dalam pembuatan kompos, meliputi areal perkebunan seluas 3 ribu ha dan 40 unit rumah kompos. Rincinya 23 unit rumah kompos ada di Luwu Utara, 16 di Luwu, satu di Sul-Tra. Tiap bulan kapasitas produksi komposnya sudah mencapai 600 ton.

Yang menarik, Mars tak hanya mengajari cara membuat kompos, melainkan membantu pula membantu menciptakan model usaha kompos. Artinya, sekaligus mengajarkan cara membisniskan kompos itu karena memang bisa dijual ke petani lain. Model percontohan usaha kompos ini sudah didirikan di Lara dan Noling yang merupakan daerah utama penghasil kakao di Sulawesi. Pendirian usaha kompos ini didampingi tenaga LSM dari ACDI/Voca.

Aspek SDM petani pun menjadi perhatian. Maklum, pengetahuan kakao di kalangan petani masih amat tradisional dan bergantung pada alam. Untuk itu MSI mengangkat fasilitator ahli kakao untuk bekerja melayani dan melatih 17 ribu petani kakao secara rutin. Program fasilitator kakao ini awalnya MSI yang memelopori, tapi kini pemda setempat makin aktif mendukung. Tak heran, awalnya separuh jumlah fasilitator berasal dari MSI, tapi kini yang dididik pemda pun semakin banyak. Fasilitator MSI kini berjumlah 17 orang. Mereka berkeliling mengedukasi petani agar bisa bertani kakao secara lebih baik. Untuk itu MSI juga menyediakan 31 area demonstrasi (demonstration plot) dan lahan kerja (latihan) bagi kelompok tani agar bisa berlatih.

Masih soal SDM, MSI mencoba ikut mendidik generasi penerus petani kakao, bekerja sama dengan pemda setempat. Sebut saja terlibat dalam penyusunan kurikulum pendidikan teknologi kakao di SMK Pertanian di Bone-Bone, Luwu Utara – lokasi pusat pembibitan, kebun klon dan lahan riset kakao. Tahun 2008, tercatat 110 siswa yang mengambil jurusan budi daya kakao di SMK itu.

Masih ada lagi, MSI menjalankan pula kegiatan yang sifatnya mendukung program penelitian dan pengembangan. Contohnya, mensponsori riset yang dilakukan ICCRI, GTZ dan the Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) dalam menciptakan teknologi baru pengontrol hama dan penyakit tanaman kakao. Lalu, bersama ACIAR, ICCRI, Dinas Perkebunan dan Unhas juga mengidentifikasi serta mengembangkan varietas kakao unggul yang lebih produktif. Contoh lagi, berkolaborasi dengan ahli tanah Dr. Bachrul Ibrahim dari Unhas untuk mengadakan survei tanah di daerah Noling, Luwu, soal potensi dan hal-hal yang harus dilakukan guna peningkatan kualitas nutrisi tanah. Berbagai program ini tentu saja ditujukan untuk mengamankan pasokan kakao ke pabrik Mars, meski dalam beberapa hal keterkaitannya tidak begitu langsung.

Abdul Gafar, pejabat Dinas Perkebunan Pemda Palopo, mengakui, komoditas kakao memang sangat strategis bagi masyarakat di seputar Palopo. Maka, kemunduran produksi kakao akhir-akhir ini amat dirasakan, sebab merupakan penghasilan utama masyarakat. “Saya sangat mendukung bila ada perusahaan seperti Mars yang menyelenggarakan berbagai program untuk memotivasi masyarakat agar meningkatkan kemampuan produksi,” kata Gafar yang lulusan Fakultas Pertanian Unhas. Dia berharap Mars bisa melakukan gebrakan dan memberi contoh ke masyarakat soal teknologi kakao terbaik yang bisa diterapkan petani.

Sementara itu Noel menolak tegas kalau berbagai program yang dijalankannya disebut sebagai kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) atau program sumbangan (charity) bagi warga masyarakat yang selama ini menjadi pemasok bahan baku cokelat Mars. “Ini bukan CSR, tapi bagian dari operaional bisnis kami. Biaya yang kami tanamkan tidak kami hitung sebagai biaya CSR, tapi bagian dari keseluruhan investasi dan operasional bisnis kami yang memproses bahan baku dari Indonesia,” Noel menjabarkan visi dari berbagai kegiatannya. Yang pasti, dalam menjalankan berbagai kegiatan itu, pihaknya tak ingin menjadikannya sebagai “proyek” melainkan “program”. “Kalau proyek, begitu dana habis berhenti dan ditingggalkan. Ini program karena kami ingin membangun dalam jangka panjang, tahap demi tahap dan konsisten,” papar Noel yang sudah biasa keluar-masuk pelosok Sul-Sel sejak 1996.

Ahmad Syamil melihat, dari sudut bisnis, program pembinaan industri hilir khususnya petani kecil mau tidak mau harus dilakukan Mars. Pasokan hasil kakao terbilang cukup rawan. Syamil yang salah satu pendiri Indonesian Production and Operation Management Society ini kemudian menyebut contoh Toyota. Toyota menerapkannya dengan konsep Just in Time yaitu producing necessary products at necessary quantity at necessary time. Maka pembinaan pemasok cokelat untuk menghasilkan produk berkualitas tinggi dalam jumlah cukup dan waktu yang tepat (timing) sebagaimana dilakukan Mars jelas sangat penting. Di dunia manajemen modern pun dikenal istilah garbage in, garbage out. “Jika pasokan barang yang kami terima jelek, kemungkinan besar hasil produksi juga akan jelek,” kata Syamil.

Tak heran, perusahaan dunia seperti Toyota dan Honda juga mengembangkan program pembinaan pemasok yang lazim dikenal dengan supplier development program sebagaimana dijalankan Mars. Perusahaan multinasional Honda, Syamil menunjuk, mengirimkan para insinyurnya untuk bekerja empat hari dalam seminggu selama 13 minggu di pabrik pemasok Honda. Toyota pun memiliki program serupa melalui Operations Management Consulting Group, dan Toyota Supplier Support Center. Kebetulan Syamil pernah berkunjung ke salah satu pemasok Honda di Ohio (AS) dan pabrik Toyota di Kentucky (AS). “Tentunya program pembinaan pemasok seperti ini perlu ditiru perusahaan-perusahaan Indonesia agar rantai pasokan lebih terjaga,” katanya.

Maklum, di tengah persaingan yang makin ketat, kemampuan menjaga mata rantai pasokan, berarti sudah mengantongi separuh bekal menuju kemenangan.
URL : http://202.59.162.82/swamajalah/sela/details.php?cid=1&id=7981

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: